Home » Internet » Tutorial web » Browsing Catat Website Kategori Blacklist

Browsing Catat Website Kategori Blacklist

Mencatat website/blog dalam daftar kategori blacklist (daftar hitam). Saat browsing internet saya mempunyai kebiasaan untuk mencatat dan menghapal situs yang “dimasukkan” dalam daftar blacklist, untuk TIDAK mengunjunginya lagi karena ternyata tidak ada informasi yang menarik. Kebiasaan ini saya lakukan untuk kenyamanan akses internet. Selain masalah kenyamanan berinternet, misalnya saat mencari informasi melalui search engine, benar-benar mendapatkan referensi situs yang membahas info yang dicari. Bukan malah mengunjungi website kategori “sampah”.

Saat kita ingin mencari informasi di internet, maka tentunya akan menggunakan search engine (mesin pencaari) untuk menemukan website atau blog yang membahas info tersebut. Kita cukup memasukkan keyword, maka akan ditampilkan link-link situs pada halaman search engine (SE). Link tersebut tentunya oleh mesin pencari “dianggap” sebagai website (referensi SE) yang membahas tentang keyword yang dicari.

Hasil pencarian search engine

Tentunya setelah muncul referensi dari search engine, dengan semangat 45 akan nge-klik salah satu link. Selanjutnya, pernahkah Anda mengalami beberapa hal di bawah ini saat mengunjungi website hasil referensi dari SE?

  1. Ternyata saat diakses isinya cuma beberapa atau banyak link, tidak ada informasi atau data yang dibutuhkan. Link-link tersebut pada akhirnya saat diklik akan mengantarkan ke website lain, yang saat dikunjungi ternyata tidak menampilkan data yang dicari. Kalau sudah begitu, akses internet yang memakan waktu dan biaya menjadi sia-sia.
  2. Situs berisi data yang dicari, tapi ternyata cuma beberapa baris, sekitar 5 sampai 10 baris. Yang bikin hati menjadi dongkol, artikelnya tidak nyambung sama sekali, walaupun mengandung keyword yang dicari. Penyebabnya beberapa baris artikel tersebut semua kata mengandung keyword untuk website.
  3. Menampilkan cuplikan artikel dalam kategori atau tag website. Tetapi setelah dicermati, dibaca berulang kali, naik turun mencari-cari pada tag/kategori tersebut tidak ada satupun artikel yang mengulas keyword yang di cari. Yang terlihat, keyword menjadi nama tag/kategori.
  4. Website berisi artikel atau pembahasan tentang keyword yang dicari. Ulasan artikel cukup panjang, akan tetapi ternyata yang disampaikan itu cuma sebagian. Untuk mengetahui secara lebih detail dan lebih lengkapnya, disarankan untuk membacanya pada situs yang berbeda.

Dari keempat “kasus” hasil pencarian tersebut di atas, akhirnya tidak memperoleh artikel yang diharapkan. Kalaupun dibahas informasi tersebut hanya sepotong-potong (kasus nomor 4).

Akibat kebiasaan itu, saya hapal beberapa website yang masuk kategori blacklist. Untuk website atau blog yang baru karena belum hapal dan agar tidak mengunjungi lagi, maka di samping monitor saya ada catatan daftar website yang masuk “daftar hitam” :) bahkan sebelum komputer hidup, daftar blacklist sudah dibaca jika ingin browsing internet :roll:

Penjelasan empat kasus website blacklist

  • Kasus balcklist nomor 1.

Hal ini terjadi karena adanya fitur Google search yang bisa dipasang pada blog. Dari sisi SEO, fitur ini dapat meningkatkan hasil pencarian. Akan tetapi karena semakin banyak yang memakai, malah terasa mengganggu (bagi saya). Saya dulu memasangnya juga, akan tetapi setelah kena “tipu” dengan hasil pencarian, maka diputuskan tidak memakai. Untuk pencarian memilih standar saja.
Fitur ini bisa disalahgunakan bagi orang yang cuma mengejar pagerank blog untuk ketenaran sesaat. Caranya sering mencari berbagai keyword dengan fitur tersebut di blognya, walaupun tidak membutuhkan.

Untuk tidak terjerumus lagi pada lubang yang sama, cukup tahu sedikit karakteristik link pencarian. Format link yang sudah saya hapal:

www.domain.com/search/keyword1+keyword2+…..

Format link tidak baku seperti itu, setiap software blog, atau desain web master tentu mempunyai karakteristik dan model yang berbeda-beda. Kalau sudah sering terjerumus website “berkasus”, nanti bisa hapal sendiri formatnya, diingat-ingat saja, yang baru ketemu, ditulis :)

  • Kasus balcklist nomor 2.

Website dengan kasus dua kebanyakan dibuat hanya sebagai dummy blog (blog pendukung) sebuah website lain, membuat backlink/linkbuilding. Apalagi konten juga asal jadi, yang penting mengandung keyword. Dan ini juga menjadi kasus nomor 4, jadinya ngajak muter-muter. Tujuannya punya beberapa website yang semua diharapkan banyak pengunjung. Penyalahgunaan tips SEO ga ya? :(

  • Kasus balcklist nomor 3.

Fasilitas tag dan kategori (wordpress), label (blogspot), topik atau apalah namanya (karena bisa diganti-ganti) sebenarnya bertujuan untuk lebih memudahkan dalam manajemen konten yang sama pembahasannya. Tapi sekali lagi sepertinya hal ini banyak disalah gunakan. Ini juga termasuk tips dan teknik SEO, lagi-lagi SEO …

Misalnya tutorial web ini masuk dalam tips internet atau hal-hal yang berkaitan dengan internet khususnya website, tapi saya juga memasukkan ke dalam tag/categories Office Word, tidak nyambung bukan? Apalagi artikel ini masuk dalam tag/kategori Propenil, benar-benar tidak ada keterkaitan sama sekali. Akibatnya bisa diketahui, saat tag/folder Propenil diklik, artikel ini akan turut ditampilkan, padahal meng-klik Propenil tujuaannya untuk mencari artikel yang berkaitan baik langsung maupun tidak dengan program Excel untuk mengolah nilai di sekolah. Semakin banyak artikel yang tidak berkaitan dengan tag/kategori, tentunya kita akan kecewa :oops:

Karakteristik URL tag/kategori biasanya seperti di bawah ini:

www.domain.com/category/judul-artikel-excel
www.domain.com/label/judul-artikel-propenil
www.domain.com/topik/judul-artikel-word

Kata category, label, topik dsb bisa diganti semaunya. Maka saat googling menemukan URL dengan kriteria seperti di atas saya TIDAK akan sekali-kali membukanya, menghindari kekecewaan dan buang waktu. KECUALI website atau blog yang sudah kita ketahui kredibilitasnya.

Berulangkali saya ketemu website, antara artikel konten dengan tag (khususnya) lebih panjang tag-nya. Artikelnya cuma 20 sampai 40 baris, lha tag sampai 60-an baris, padahal 80% keyword tidak ada kaitannya sama sekali.

Hebatnya beberapa website selalu bisa berada papan atas dengan bermacam-macam keyword, padahal tidak ada kaitannya sama sekali. Tapi itulah hasil kerja crawl search engine, bekerja sebagaimana yang telah diatur programmer. Website tetap mendapat predikat “baik” di mata search engine, apalagi semakin banyak yang mengunjungi (walaupun tidak menemukan artikel yang dicarinya), yang namanya mesin ya tetap mesin.

Secara jujur saya mengakui ketelatenan, kehebatan dan kreatifitas pemiliknya dalam menerapkan tips dan teknik SEO dengan optimal sehingga bisa berjaya di internet. Hasilnya website atau blog yang baru berusia 1 tahun sudah bisa mengalahkan situs yang lebih lama dan dengan pengunjung lebih banyak.

Operasional kasus-kasus di atas tentunya akan semakin berkembang seiring perkembangan komputer dan internet. Tentunya Anda punya pengalaman yang berbeda dengan saya.

Demikian tips browsing internet dengan mencatat dan mengingat website untuk dimasukkan dalam kategori blacklist. Semua ini tentunya untuk kenyamanan kita sendiri saat browsing internet mencari-cari bahan atau materi yang dibutuhkan. Berbagi pengalaman, sebelum komputer menyala untuk akses internet, siapkan dan baca daftar website blacklist :roll: Semoga bermanfa’at, maaf dan terima kasih.

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

Leave a Comment