Home » Pendidikan » PAUD » Hindari Membentak Anak Kecil

Hindari Membentak Anak Kecil

Orangtua untuk menghindari membentak atau memarahi anak kecil yang berbuat salah. Kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan anak karena pemahaman yang masih terbatas, atau bisa jadi karena bermula dari orangtua yang salah memberikan arahan pendidikan. Sebaiknya rasa marah dan main bentak terhadap anak kecil dibuang jauh, agar tumbuh menjadi anak-anak yang taat dan patuh kelak setelah dewasa.

Mendidik anak untuk taat dan patuh tidak harus dengan membentak-bentak atau kemarahan untuk membuat kedisiplinan. Demi “disiplin” ini yang sering diutarakan orangtua untuk membenarkan sikap arogan dengan cara membentak dan memarahi anak kecil. Tidak sadarkah para orangtua yang melakukan hal-hal tersebut, bukannya anak menjadi penurut, malah kebalikannya membentuk karakter pemberontak. Tetapi semua itu tidak pernah dijadikan sebuah pelajaran.

Setiap manusia mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ada anak yang menurut dengan setiap perintah. Ada pula anak yang mudah emosi (marah). Ada anak yang pendiam. Ada anak yang aktif, mobilitasnya sangat tinggi sehingga orangtuanya kadang sampai kerepotan dengan perilakunya. Kenapa bisa terjadi? Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi mungkin memerlukan sebuah jawaban yang panjang lebar (ahli psikologi :) ), karena saya tidak paham betul dengan teorinya. Diluar teori-teori pendidikan anak, saya sendiri sering mengamati perilaku anak dalam setiap keluarga, dan mempunyai sebuah simpulan yang terkadang orangtua tidak tahu (tidak menyadari). Secara pengetahuan orangtua umumnya sudah mengetahui cara mendidik anak agar menjadi pribadi yang terampil, cerdas, rajin dan berbudi pekerti yang baik. Akan tetapi realitasnya dalam memperlakukan anak malah cenderung terbalik dalam cara mengarahkannya.

Seperti sudah diketahui, pengetahuan anak belum sampai pada taraf untuk membedakan antara sesuatu yang baik dan yang buruk. Disinilah tugas orangtua mengarahkan anak supaya mudah memahami sesuatu hal tersebut dengan mudah.

Yang sering saya lihat, ketika seorang anak melakukan sebuah kesalahan yang tanpa sengaja (karena belum memahaminya), maka untuk meluruskan kekeliruan tersebut terkadang orangtua mengeluarkan kata-kata yang kasar (membentak), padahal menurutku itu sesuatu hal yang wajar. Seperti memecahkan barang yang mempunyai nilai tinggi, atau bermain-main dengan benda yang berbahaya. Reaksi orangtua akan beragam, akan tetapi lebih banyak dengan kata-kata yang kasar dan nada tinggi, membentak, menyalahkan, kemudian akan melarang.

Perlu diketahui, kemampuan anak kecil berpikir abstrak (berkhayal) masih terbatas, akibat baik maupun buruk dari segala yang ia lakukan. Semakin sering intensitas anak mendapat perlakuan seperti itu, maka anak lama-kelamaan akan menjadi apatis dengan perintah orangtua (tidak peduli). Tidak sedikit saat dinasehati malah balas membentak atau menunjukkan sikap marah karena selalu dipihak yang salah. Kekecewaan yang diperolehnya setiap hari akan terakumulasi atau terkumpul menjadi sebuah sikap melawan, mudah marah, memberontak dan lain-lain dengan cara mengabaikan setiap perkataan orangtua.

Hal yang saya lakukan setiap kali anak melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahaya, maka saya memberi pengertian kepadanya dan membiarkan anak untuk berpikir dengan hal yang akan dikerjakan. Tetapi tanpa membiarkan anak melakukan sendiri, tetap saya awasi dan mendampingi. Kemudian saat anak melakukan kesalahan, sehingga merusak sesuatu, atau menjadi terluka, maka saya tidak pernah menyalahkan apalagi membentak, terkadang malah ketawa-ketiwi :) untuk menghibur. Justru dari hal tersebut anak mendapat pembelajaran langsung akibat dari perbuatannya, harapannya pada masa yang akan datang tidak terulang lagi.

Ketika suatu saat anak kecil akan melakukannya lagi, cukup kita ingatkan hasil perbuatannya pada waktu lampau. Akan tetapi apabila anak tetap ingin melakukan lagi, ya…. saya biarkan melakukan lagi, dengan mengarahkan agar kesalahan yang dulu tidak terulang dan… kita tidak perlu marah atau jengkel. Biarkan anak mengenal lingkungannya dengan gayanya sendiri, untuk melatih kreatifitas dan tanggung jawabnya terhadap setiap akibatnya.

Jadi, dengan begitu insya Allah anak akan selalu mematuhi perintah orangtua, karena mereka dibiarkan untuk mengeksploitasi sesuatu dengan senang hati dalam bimbingan orantua, dan tentunya menjadi sebuah pengalaman riil yang akan berguna baginya saat dewasa kelak. Wallahu a’lam bis-showab.
Bagi keluarga yang komputer juga dipakai anak, sebaiknya tahu cara backup Windows dengan program Norton Ghost di Hiren’s BootCD, sehingga suatu saat error atau rusak bisa segera dikembalikan seperti semula. Bagi yang ingin belajar Excel bisa mulai dari dasar, silahkan baca cara menggunakan rumus IF OR dan AND Office Excel. Maaf dan matur nuwun

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

Leave a Comment