Home » Pendidikan » PAUD » Kebenaran Diri Orang Tua

Kebenaran Diri Orang Tua

Seorang anak bermain pisau kecil. Bapaknya sudah melarang untuk tidak bermain dengan pisau, karena berbahaya, dapat melukai dirinya sendiri. Berulangkali bapaknya memperingatkan, tetapi anaknya tetap asyik bermain pisau. Dan… pada akhirnya anak tergores pisau, mengeluarkan darah cukup banyak. Dengan menahan marah, bapak memberi pengertian kepada anak, bahwa apa yang diucapkan orangtua selalu benar, dan akan menjadi kenyataan. Dengan kata lain anak harus mematuhi setiap perintah (anjuran/larangan) orangtua. Benarkah?

Melihat peristiwa tersebut, betapa nelangsanya perasaan si anak yang masih kecil, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, merasakan rasa sakit terluka kena benda berbahaya, masih ditambahi harus menerima kemarahan orang tuanya. Tidak cuma itu, efek yang lainnya si anak harus menerima kenyataan pahit di cap sebagai anak yang tidak patuh dan tidak pernah memperhatikan nasihat orang tua.

Melihat peristiwa tersebut, saya berpikir terbalik. Tidak sedikit orangtua yang memaksakan sebuah KEBENARAN yang sudah diyakini kepada anak. Padahal anak belum mengetahui arti dan maksud kebenaran, karena dalam diri anak belum ada pengetahuan baik dan buruk, apalagi akibat yang akan ditimbulkan.

Salah satu yang tidak saya suka adalah pengakuan dari orangtua bahwa kebenaran versi orangtua bersifat mutlak, anak harus patuh. Cara seperti ini sama saja mengajak anak untuk senantiasa taat pada setiap KEBENARAN menurut versi orangtua, padahal anak belum mempunyai pengalaman sampai hal seperti itu. Apakah setiap keinginan orang tua yang dianggap menjadi sebuah “kebenaran” memang sesuatu yang benar-benar “BENAR“? :roll:

Kebenaran orangtua terbentuk setelah melewati kurun waktu yang panjang mengarungi kehidupan, sehingga menghasilkan pengalaman untuk menuntutnya bersikap ideal sesuai norma yang berlaku. Sedangkan anak, masih sangat jauh untuk melewati masa-masa seperti orang tuanya.

Pada akhirnya semua perilaku orangtua yang menganggap “kebenaran” itu mutlak dari mereka, akan membentuk jiwa yang kaku hanya pada satu pendapat, tanpa ada pembandingnya (misalnya dari sudut pandang anak dalam masalah tersebut). Kreatifitas anak dalam mengeksplorasi lingkungan sekitarnya sebagai wahana untuk belajar akan terbelenggu, karena harus taat dan patuh pada KEBENARAN dari orangtuanya. Padahal anak belum mampu berpikir abstrak.

Ketika seorang anak bermain benda berbahaya, misalnya pisau, tentunya mereka akan “berusaha” berhati-hati jangan sampai melukai diri sendiri. Keinginan anak “berusaha” berhati-hati tentunya berdasarkan pengalaman pribadi mereka sendiri. Tidak pernah mereka berpikir untuk melukai diri sendiri dengan sengaja, justru yang sengaja melukai diri sendiri banyak dilakukan orang dewasa, bahkan ada yang sampai bunuh diri :( atau akan mengatakan dengan tanpa beban “ah itu kecelakaan”. Sehingga sangatlah wajar kalau sampai terluka karena salah perhitungan (menurut kadar kemampuan anak dalam memahaminya). Lha kenyataannya orangtua yang sudah banyak ilmu dan pengalaman saja masih banyak yang tergores pisau dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Melihat anak sendiri bermain benda-benda yang berbahaya terkadang saya juga takut dan kuatir jika anak sampai terluka parah. Akan tetapi kalau melarang begitu saja, anak tidak punya pengalaman dengan sesuatu yang berbahaya. Maka walaupun kuatir, saya akan tetap membiarkan anak bermain sesuatu yang berbahaya. Sambil bermain saya jelaskan tingkat bahayanya hal tersebut. Malah kadang-kadang saya berharap anak saya terluka, tapi tidak parah :lol: sehingga mempunyai pengalaman langsung. Kita sebagai orangtua tinggal memberikan pengertian tentang peristiwa tersebut, insya Allah anak dapat memahaminya, karena sudah merasakan langsung, dan tentunya harapan kita semua hari esok anak-anak kita akan lebih berhati-hati.

JANGAN PAKSAKAN SEBUAH KEBENARAN KEPADA ANAK KECIL, KARENA ANAK BELUM MAMPU BERPIKIR ABSTRAK DAN ANAK BELUM MENGERTI HAKIKAT DARI ARTI SEBUAH KEBENARAN.
Kebenaran itulah yang sedang mereka pelajari setiap hari.

Sebagai persiapan untuk memberikan pendidikan anak, maka silahkan baca artikel tentang —– Office Word atau rumus Excel, agar bisa lebih awal anak belajar mengenal komputer, mulai dari cara mengetik atau  menggunakan rumus Excel. Agar tumbuh minat untuk belajar Office Word dan Excel, tidak cuma main game komputer doank :roll: Anda punya pengalamn dan ingin berbagi dengan orang lain, silahkan baca web hosting untuk blog/website. Kritik dan saran sangat terbuka untuk kemajuan blog ini. Terima kasih sudah berkunjung, maaf dan semoga bermanfa’at.

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

Leave a Comment