Home » Islam » Kerajaan Mughal Di India

Kerajaan Mughal Di India

Makalah Sejarah Kerajaan Mughal Di India. Kerajaan Mughal merupakan sebuah warisan sejarah Islam di India pada masa kekuasaan bani Umayyah. Kerajaan Mughal yang bercorak Islam mampu membangkitkan semangat ummat Islam di India untuk mencapai kejayaannya. Berikut ini makalah tentang sejarah Kerajaan Mughal di India, juga mengenai Raja Zahiruddin Babur, Humayun, Syah Jehan, Aurangzeb.

Sebelum Anda membaca makalah ini, barangkali ingin menambah pengalaman seputar komputer dan internet, beberapa artikel blog yang penting dibaca :

  1. Cara install Windows 7 dari USB Flashdisk
  2. Backup Windows dengan Norton Ghost di Hiren’s BootCD
  3. Meluruskan pemahaman letak keyword konten blog (tips SEO)
  4. Tutorial rumus IF OR AND Office Excel
  5. Untuk copy paste makalah ini, gunakan Notepad++

A. Pendahuluan.

Kerajaan Mughal merupakan sebuah warisan sejarah Islam di India pada masa kekuasaan bani Umayyah. Sebagaimana sudah diketahui, daerah India adalah tempat tumbuh dan berkembangnya agama Hindu. Hadirnya kerajaan Mughal membentuk sebuah peradaban baru di daerah tersebut dimana pada saat itu mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Kerajaan Mughal yang bercorak Islam mampu membangkitkan semangat ummat Islam di India untuk mencapai kejayaannya.

Ajaran Islam sampai ke India melalui jalur perdagangan yang sudah terjalin lama sebelum munculnya Islam di Arab. Daerah India pada waktu itu oleh masyarakat Arab disebut dengan Sind atau Hind (Novriyanto: 2010).

Oleh karena itu menjadi penting menulis makalah yang menceritakan tentang sejarah Kerajaan Mughal yang bercorak Islam.

Makalah ini memaparkan seluk-beluk sejarah Kerajaan Mughal, maka untuk memudahkan dan memahami penulisan makalah ini, penulis membatasi pembahasannya, meliputi awal mula berdiri, perkembangan, kemajuan dan keruntuhannya.

B. Awal Berdiri Kerajaan Mughal

Pada masa Khalifah al-Walid (705-715) yang berkuasa dari bani Umayyah, mengutus panglima Muhammad Ibnu Qasim untuk melakukan ekspidisi ke daerah India (Yatim, 1993: 145). Sejak saat itulah ajaran Islam mulai tumbuh dan menyebar di daerah India. Kemudian pasukan Ghazwaniyah yang dipimpin Sultan Mahmud mengembangkan kedudukan Islam dan pada akhirnya berhasil menaklukkan kekuasaan Hindu. Selanjutnya Sultan Mahmud dapat meng-Islamkan sebagian masyarakat India pada tahun 1020 M. Setelah kehancuran dinasti Ghaznawiyah, muncullah dinasti-dinasti kecil di India seperti dinasti Mamluk (1026-1290 M.), dinasti Khalji (1296-1316 M.), dinasti Tuglag (1320-1412 M.), dinasti sayyid (1414-1451 M.) dan dinasti Lodi (1451-1526 M.) (Nasution, 1985: 82). Keberadaan beberapa dinasti tersebut menjadi bukti bahwa kerajaan Islam yang pertama kali di India bukan Kerajaan Mughal. Akan tetapi kerajaan bercorak Islam dari India yang bersinar dan mencapai kejayaannya tidak lain adalah kerajaan Mughal.

Kerajaan Mughal didirikan oleh salah seorang keturunan Timur Lenk  yang bernama Zahirudin Babur (1482-1530 M.) dari Mongol. Ayahnya bernama Umar Mirza yang berkuasa di Ferghana (Yatim: 147), keturunan langsung dari Miransah, putra ke-3 Timur Lenk. Ibunya keturunan Jenghis Khan (http://sabdakhairuss.blogspot.com: 2010).

Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia mempunyai ambisi dan tekad akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Dengan bantuan Raja Ismail I dari Safawi, akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M. pada tahun 1504 M, ia menduduki kota Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi yang dipimpin Ibrahim Lodi.

Pada waktu itu Delhi mengalami krisis stabilitas. Daulah Khan, Gubernur Lahore dan Alam Khan, paman Ibrahim sendiri melakukan pembangkangan terhadap pemerintahan Ibrahim Lodi, dan meminta bantuan Babur untuk merebut Delhi. Tiga kekuatan itu bersatu untuk menyerang kekuatan Ibrahim, tetapi usaha itu memperoleh kegagalan. Penyebabnya menurut mereka Babur tidak bersungguh-sungguh dalam membantu.

Ketidakseriusan Babur menimbulkan kecurigaan di mata Daulah Khan dan Alam Khan, sehingga keduanya berbalik menyerang Babur. Babur dapat mengalahkan gabungan dua kekuatan tersebut dan menguasai Lahore pada tahun 1525 M. Dari Lahore ia terus bergerak ke selatan hingga mencapai Panipat. Pada tanggal 21 April 1526 M ia berjumpa dengan pasukan Ibrahim maka terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat. Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu (Yatim: 147). Babur memperoleh kemenangan yang amat dramastis dalam pertempuran Panipat I (1526 M) itu, karena hanya dengan didukung 26.000 personel angkatan perang, ia dapat melumpuhkan kekuatan Ibrahim yang di dukung oleh 100.000 personel dan 1.000 pasukan gajah (Hitsuke: 2009). Setelah memperoleh kemenangan itu kemudian Babur mendirikan pemerintahannya di Delhi. Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughal di India.

C. Perkembangan Kerajaan Mughal.

Kemenangannya yang begitu cepat mengundang reaksi dari para penguasa Hindu setempat. Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru tiba itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya.

Setelah Rajput dapat ditundukkan, konsentrasi Babur diarahkan ke Afganistan, yang saat itu dipimpin oleh Mahmud Lodi saudara Ibrahim Lodi. Kekuatan Mahmud dapat dipatahkan oleh Babur tahun 1529 M sehingga Gogra dan Bihar jatuh ke bawah kekuasaannya. Pada tahun 1530 M Babur meninggal Dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun, dengan meninggalkan kejayaan-kejayaan yang cemerlang. Pemerintahan dilanjutkan oleh anak sulungnya Humayun.

Pemerintahan Humayun banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa kekuasaannya selama sembilan tahun (1530-1539 M) negara tidak pernah aman. Diantara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Bahadur Syah melarikan diri dan Gujarat dapat dikuasai. Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan Sher Khan di Kanauj. Dalam pertempuran ini Hamayun mengalami kekalahan. Ia melarikan diri ke Kandahar dan selanjutnya ke Persia. Di Persia ia menyusun kembali tentaranya. Dengan bantuan raja Tahmasp dari Persia, ia menyerang musuh-musuhnya. Humayun dapat mengalahkan Sher Khan Shah setelah hampir 15 tahun meninggalkan Delhi. Ia kembali ke India dan menduduki tahta kerajaan Mughal pada tahun 1555 M. Setahun kemudian (1556 M) ia meninggal dunia karena terjatuh dari tangga perpustakaanya, Din Panah. Selanjutnya kerajaan Mughal diperintah oleh anaknya yang bernama Akbar.

Adapun urutan-urutan penguasa kerajaan Mughal dari awal sampai akhir sebagai berikut:

  1. Zahiruddin Babur (1482-1530 M)
  2. Humayun (1530-1539 M)
  3. Akbar Syah I (1556-1605 M)
  4. Jehangir (1605-1628 M)
  5. Syah Jehan (1628-1658 M)
  6. Aurangzeb (Alamgir I) (1658-1707 M)
  7. Muazzam (Bahadur Syah I) (1707-1712 M)
  8. Azimus Syah (1712 M)
  9. Jihandar Syah (1712 M)
  10. Farukh Siyar (1713-1719 M)
  11. Muhammad Syah (1719-1748 M)
  12. Ahmad Syah (1748-1754 M)
  13. Alamghir II (1754-1759 M)
  14. Syah Alam II (1759-1806 M)
  15. Akbar II (1806-1837 M)
  16. Bahadur Syah II (1837-1858 M)

D. Masa Kejayaan Kerajaan Mughal

1.             Bidang Politik.

Kejayaan kerajaan Mughal dimulai pada masa pemerintahan Akbar (1556-1605) dan tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.

Akbar menggantikan ayahnya, pada saat ia berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Kahan, yang beraliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya, Akbar melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang berkuasa di Punjab. Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh.

Setelah Akbar dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia dapat menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan yang militeristik (Yatim: 149).

Hal itu membuat kerajaan Mughal menjadi sebuah kerajaan besar. Wilayah Kabul dijadikan sebagai gerbang ke arah Turkistan dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia.

2.             Bidang Agama.

Akbar berhasil menerapkan bentuk politik sulakhul (toleransi universal), yaitu politik yang mengandung ajaran bahwa semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama (Yatim: 149).

Pada masa Akbar, perkembangan agama Islam di Kerajaan Mughal mencapai suatu fase yang menarik, di mana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama, yaitu konsep Din-i-Ilahi. Karena aliran ini Akbar mendapat kritik dari berbagai lapisan umat Islam. Bahkan Akbar dituduh membuat agama baru. Pada prakteknya, Din-i-Ilahi bukan sebuah ajaran tentang agama Islam. Namun konsepsi itu merupakan upaya mempersatukan umat-umat beragama di India.

Perbedaan kasta di India membawa keuntungan terhadap pengembangan Islam, seperti pada daerah Benggal, Islam langsung disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk terutama dari kasta rendah yang merasa disia-siakan dan dikutuk oleh golongan Arya Hindu yang angkuh. Pengaruh Parsi sangat kuat, hal itu terlihat dengan digunakanya bahasa Persia menjadi bahasa resmi Mughal dan bahasa dakwah, oleh sebab itu percampuran budaya Persia dengan budaya India dan Islam melahirkan budaya Islam India yang dikembangkan oleh Dinasti Mughal.

Berkembangnya aliran keagamaan Islam di India. Sebelum dinasti Mughal, muslim India adalah penganut Sunni fanatik. Tetapi penguasa Mughal memberi tempat bagi Syi’ah untuk mengembangkan pengaruhnya.

Pada masa ini juga dibentuk sejumlah badan keagamaan berdasarkan persekutuan terhadap mazhab hukum, thariqat Sufi, persekutuan terhadap ajaran Syaikh, ulama, dan wali individual. Mereka terdiri dari warga Sunni dan Syi’i.

Pada masa Aurangzeb berhasil disusun sebuah risalah hukum Islam atau upaya kodifikasi hukum Islam yang dinamakan Fattawa Alamgiri. Kodifikasi ini bertujuan untuk meluruskan dan menjaga syari’at Islam yang nyaris kacau akibat politik Sulakhul dan Din-i- Ilahi.

3.             Bidang Ekonomi.

Kemantapan stabilitas politik karena sistem pemerintahan yang diterapkan Akbar membawa kemajuan dalam bidang-bidang yang lain. Dalam bidang ekonomi, kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, perrtambangan dan perdagangan. Akan tetapi, sumber keuangan negara lebih banyak bertumpu pada sektor pertanian. Hasil pertanian kerajaan Mughal yang terpenting yaitu biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas, nila dan bahan-bahan celupan (Yatim: 150).

Di samping untuk kebutuhan dalam negeri, hasil pertanian itu di ekspor ke Eropa, Afrika, Arabia dan Asia Tenggara bersamaan dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordiyn yang banyak di produksi di Bengal dan Gujarat. Untuk meningkatkan produksi, Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.

4.             Bidang Seni dan Budaya.

Bersamaan dengan majunya bidang ekonomi, bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun India. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, dengan karyanya berjudul Padmavat, sebuah karya yang mengandung pesan kebajikan jiwa manusia. Pada masa Aurangzeb, muncul seorang sejarawan bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figur pemimpinnya.

Karya seni yang dapat dinikmati sampai sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai oleh kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan mengagumkan. Pada masa Akbar di bangun istana Fatpur Sikri di Sikri, Villa dan masjid-masjid yang indah. Pada masa Syah Jehan dibangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore  (Yatim: 150).

E. Masa Kemunduran Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad Dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18  kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran, kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu para pedagang Inggris yang diijinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.

Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya, yaitu mengganti kebijakan konsiliasi[1] dengan menerapkan hukum Islam. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya. Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan dipegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul. Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya yang berjalan selama lima tahun, ia dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.

Setelah Bahadur Syah meninggal, dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, Bahadur Syah diganti oleh anaknya, Azimus Syah. Akan tetapi, pemerintahannya ditantang oleh Zulfiqar Khan, putra Azad Khan, Wazir Aurangzeb. Azimur Syah meninggal tahun 1712 M, dan diganti oleh putranya, Jihandar Syah, yang mendapat tantangan dari Farukh Siyar, adiknya sendiri. Jihandar Syah dapat disingkirkan oleh Farukh Siyar tahun 1713 M.

Farukh Siyar berkuasa sampai tahun 1719 M dengan dukungan kelompok sayyid, tapi ia tewas di tangan para pendukungnya sendiri (1719M). Sebagai penggantinya diangkat Muhammad Syah (1719-1748 M). Namun ia dan pendukungnya terusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya telah berhasil melenyapkan kekuasaan Safawi di Persia. Keinginan Nadir Syah untuk menundukkan kerajaan Mughal terutama karena menurutnya, kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan kepada pemberontak Afghan di daerah Persia. Oleh karena itu, pada tahun 1739 M, dua tahun setelah menguasai Persia, ia menyerang kerajaan Mughal.

Muhammad Syah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi, setelah ia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak kepada Nadir Syah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang oleh Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam al-Mulk (1722-1732 M) karena mendapat dukungan dari Marathas. Akan tetapi tahun 1732 M, Nizam al-Mulk meninggalkan Delhi menuju Hiderabad dan menetap disana. Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahananya masing-masing. Hiderabad dikuasai Nizam al-Mulk, daerah Marathas dikuasai Shivaji, sedangkan daerah Rajput menyelenggarakan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Jai Singh dari Amber, Punjab dikuasai oleh kelompok Sikh. Oudh dikuasai oleh Sadat Khan, Bengal dikuasai oleh Syuja’ al-Din, menantu Mursyid Qulli, penguasa Bengal yang diangkat Aurangzeb. Sementara wilayah pantai banyak yang dikuasai para pedagang asing, terutama EIC dari Inggris (Yatim: 161).

Pada tahun 1761 M, kerajaan Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani dari Afghan. Kerajaan Mughal tidak dapat bertahan dan sejak itu Mughal berada di bawah kekuasaan Afghan. Meskipun Syah Alam tetap diijinkan memakai gelar sultan.

Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun itu juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Qudh, Bengal dan Orisa kepada Inggris. Sementara itu, Najib al-Daula, wazir Mughal dikalahkan oleh aliansi Sikh-Hindu, sehingga Delhi di kuasai oleh Sindhia dari Marathas. Akan tetapi Sindhia dapat dihalau kembali oleh Syah Alam dengan bantuan Inggris (1803 M).

Syah Alam meninggal tahun 1806 M. Tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh Akbar II (1806-1837 M). Pada masa pemerintahannya Akbar memberi konsesi kepada EIC untuk mengembangkan usahanya di India sebagaimana yang diinginkan Inggris, tapi pihak perusahaan harus menjamin kehidupan raja dan keluarga istana. Dengan demikian, kekuasaan sudah berada di tangan Inggris, meskipun kedudukan dan gelar sultan dipertahankan.

Bahadur Syah (1837-1858 M), penerus Akbar, tidak menerima isi perjanjian antara EIC dengan ayahnya itu, sehingga terjadi konflik antara kedua kekuatan tersebut.

Pada waktu yang sama, pihak EIC mengalami kerugian, karena penyelenggaraan administrasi perusahaan yang kurang efisien, padahal mereka harus tetap menjamin kehidupan istana. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan. Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka mengembalikan kekuasaan kerajaan Mughal di India. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M.

Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena Inggris mendapat dukungan dari beberapa penguasa lokal Hindu dan Muslim. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi. Rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan Dinasti Mughal di India.

F. Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Kerajaan Mughal

Ada beberapa faktor internal kerajaan yang menyebabkan kekuasaan Dinasti Mughal ini mundur pada satu setengah abad terakhir, dan membawa kehancuran pada tahun 1858 M adalah:

  1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera di pantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persejataan buatan Mughal itu sendiri.
  2. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya[2], sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
  3. Dekadensi moral dan gaya hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  4. Semua pewaris kerajaan pada masa terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan, sehingga tidak mampu menangani kemerosotan politik dalam negeri.

 

Faktor eksternal ditandai dengan banyaknya gerakan pemberontakan sebagai akibat dari lemahnya para pemimpin kerajaan Mughal setelah kepemimpinan Aurangzeb, sehingga banyak wilayah-wilayah kerajaan Mughal yang terlepas dari kekuasaan Mughal. Adapun pemberontakan-pemberontakan tersebut antara lain:

  1. Kaum Hindu yang dipimpin oleh Banda berhasil merebut Sadhura, letaknya di sebelah utara Delhi dan juga kota Sirhind.
  2. Golongan Marata yang dipimpin oleh Baji Rao dan berhasil merebut wilayah Gujarat.
  3. Pada masa pemerintahan Syah Alam terjadi beberapa serangan dari pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani. Syah Alam mengalami kekalahan dan Mughal jatuh pada kekuasaan Afghanistan.

DAFTAR BACAAN

Arifin, M. dan Aminuddin Rasyad, Dasar-dasar Pendidikan, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama Republik Indonesia, 1998/1999.

Chamidi, Safrudin, “Kontribusi Sekolah Swasta bagi Pendidikan di Indonesia”, dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 035 Tahun ke-8, Maret 2002.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke jaman, Jakarta: Balai Pustaka, 1986.

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, cet. ke-5, Jakarta: UI Press, 1985.

Poerbakawatja, Soegarda, Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka, Jakarta: Gunung Agung, 1960.

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Penjelasannya, Yogyakarta: Media Wacana, 2003.

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

http://hitsuke.blogspot.com/2009/05/kerajaan-mughal-di-india.html/

http://id.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_konflik/

http://mnovrianto.blogspot.com/2009/12/kerajaan-mughal-di-india.html/

http://sabdakhairuss.blogspot.com/2010/06/kerajaan-mughal-di-india.html/


[1]Konsiliasi : usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama (Lihat : http://id.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_konflik)

[2]Asketis (asketik) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, diberi arti “paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban”.

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

Leave a Comment