Home » Islam » Fiqh » Memahami Rukun Wudhu

Memahami Rukun Wudhu

Dalam ajaran Islam ibadah wudhu merupakan syarat sah untuk melakukan shalat. Artinya ketika mengerjakan wudhu tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan hukum syara’ maka pelaksanaan shalatnya menjadi tidak sah (batal). Kayaknya mudah untuk mengambil air wudhu, akan tetapi jika tidak cermat dan hati-hati akan menyebabkan kesia-siaan dalam beribadah. Berikut ini beberapa hal yang perlu menjadi catatan dalam melaksanakan wudhu, khususnya dalam permasalahan rukun-rukunnya.

Sebelum membahas khusus tentang pelaksanaan rukun-rukun wudhu, saya posting sekalian dengan Dalil wudhu dari Al Qur’an dan Hadits tentang kewajiban (ketentuan) berwudhu sebelum shalat, sebagai landasan untuk lebih mudah memahami materi yang akan saya uraikan pada kesempatan ini. Dalilnya sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ… -المائدة:٦

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah (usaplah) kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah: 6)

Berikut dalil dari al-Hadits Bukhari yang saya kutip lengkap.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Atha’ bin Yazid dari Humran mantan budak ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa ia melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta untuk diambilkan air wudhu. Ia lalu menuangkan bejana itu pada kedua tangannya, lalu ia basuh kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh mukanya tiga kali, membasuh kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu membasuh setiap kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, “Aku telah melihat Nabi SAW berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari: 159)

Dalil yang lain banyak ditulis dalam buku (kitab) atau bisa mencari di internet. Karena saya ingin lebih fokus pada pelaksanaan rukun wudhu.
Seperti sudah lazim diketahui, bahwa rukun wudhu ada 6, yaitu :

  1. Niat
  2. Membasuh muka
  3. Membasuh kedua tangan sampai siku-siku
  4. Mengusap kepala
  5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki
  6. Tertib

Untuk lebih memperjelas dalam memahami praktik wudhu ini, ada dua kata yang perlu mendapat perhatian, karena saya melihat banyak orang salah melakukannya, yaitu kata-kata “membasuh” dan “mengusap“. Insya Allah jika memahami pengertian dan perbedaan kedua kata tersebut kita menjadi lebih mudah dalam melaksanakan wudhu dengan baik dan benar.

  • Membasuh artinya mengalirkan (mendatangkan) air ke suatu objek. Dalam hal ini tidak lain anggota wudhu, yaitu muka, tangan dan kaki. Dengan kata lain yang lebih mudah dipahami yaitu adanya air yang mengalir (didatangkan) ke anggota wudhu. Karena sangat jelas dalam dalil disebutkan “membasuh“.
  • Mengusap artinya sesuatu yang menempel untuk diratakan pada objek lain. Dalam permasalahan wudhu, berarti air yang menempel di telapak tangan diratakan ke kepala. Kata “menempel” untuk lebih mudah memahaminya, setelah mencelupkan (memasukkan) atau mengaliri tangan dengan air, kemudian kita buka telapak tangan dan dihadapkan ke bawah, maka sisa-sisa air yang masih tertinggal di telapak tangan itulah yang disebut “air menempel“, yang digunakan untuk mengusap kepala.
  • Untuk lebih memperjelas perbedaannya, kedua kata tersebut juga berbeda dengan kata “meratakan”. Meratakan artinya sesuatu yang sudah ada kemudian diratakan. Misalnya air yang SUDAH ada di meja, kemudian diratakan untuk membasahi permukaan meja. Air yang sudah ada di tangan, kemudian diratakan ke seluruh tangan. Tentunya hal ini berbeda dengan membasuh dan mengusap.

Dengan memahami ketiga kata kunci terebut, maka akan lebih memudahkan dalam mengamalkan wudhu, khususnya rukun-rukunnya.

1. Niat

Niat cukup di dalam hati, atau hendak dilafalkan silahkan saja. Pelaksanaannya bersamaan dengan membasuh muka.

2. Membasuh muka

Batasan muka yang harus dibasuh yaitu

Batas atas : tempat tumbuhnya rambut (pada umumnya). Jika tidak ada rambutnya, misalnya gundul (plontos) atau botak, maka dikira-kira sampai tempat tumbuhnya rambut pada umumnya. Umpamanya kepala botak sampai ubun-ubun (tengah kepala), maka cukup membasuh muka sampai di atas dahi (tempat tumbuh rambut umumnya), tidak harus membasuh sampai ubun-ubun.

Batas bawah : rahang atau tulang dagu.

Batas samping kanan-kiri : anak daun telinga

Maka semua area wudhu, mulai dari atas, bawah sampai samping harus dengan kata MEMBASUH (lihat pengertiannya di atas). Bukan mengusap apalagi meratakan. Karena dalam permasalahan ini banyak sekali yang melakukan kesalahan. Maka pada saat mengambil air menggunakan telapak tangan yang disatukan, penuhilah dengan air (jangan dibuang) kemudian basuhlah seluruh muka. Selain itu seluruh area muka harus terbasuh, tidak cukup bagian tengah saja.

3. Membasuh kedua tangan sampai siku

Rukun ketiga ini juga dengan kata “membasuh“. Berhati-hatilah! Karena pada pelaksanaannya banyak yang tidak terbasuh sampai siku, khususnya bagian belakang TEPAT di daerah siku. Kuncinya ingat kata “membasuh” dan batasan sampai siku.

4. Mengusap kepala

Pada rukun ini dengan kata “mengusap“, artinya cukup air yang menempel pada telapak tangan untuk diusapkan ke kepala (rambut). Karena jika mengambil air dengan telapak tangan sampai penuh atau tidak, kemudian di usapkan ke kepala, maka itu bukan mengusap lagi, tetapi disebut membasuh. Padahal ketentuannya jelas dengan bahasa mengusap, bukan membasuh.

5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

Kata yang digunakan dalam rukun ini yaitu “membasuh“. Yang perlu diperhatikan adalah membasuh sekitar mata kaki bagian luar (di atas tumit). Karena pada bagian ini banyak yang melalaikan, karena lebih fokus pada bagian mata kaki ke atas (sunnah).

6. Tertib

Artinya semua gerakan atau urutan wudhu tidak boleh terbalik. Jika terbalik maka hukum wudhu tidak sah. Umpamanya mendahulukan mengusap kepala, kemudian baru membasuh kedua tangan ini tidak boleh (tidak sah/batal).

Demikian praktik atau pelaksanaan rukun wudhu dalam ajaran Islam. Dengan melakukan wudhu secara benar maka ibadah shalat tidak menjadi sia-sia. Mohon maaf jika penjelasannya sulit dipahami, karena ternyata memberikan penjelasan melalui tulisan itu lebih sulit, dan saya baru belajar menuangkan ide melalui media blog tercinta ini :) Terima kasih dan semoga bermanfaat…

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Leave a Comment