Home » Pendidikan » PAUD » Mengawasi Anak Bermain Benda Berbahaya

Mengawasi Anak Bermain Benda Berbahaya

Anak balita usia 10 sampai dengan 24 bulan umumnya belum mengerti benda berbahaya, bagaimana mengatasinya andai ia mengambil piring atau gelas berisi air panas? Kalau kita larang mereka mendekat, artinya kita telah menghambat perkembangan mentalnya. Yang terjadi malah sebaliknya, anak semakin penasaran dengan benda-benda tersebut. Berikut artikel tentang pendidikan untuk anak balita dalam belajar mengenal benda-benda “berbahaya.

Sudah menjadi tradisi sejak zaman nenek moyang, seorang anak balita yang mulai merangkak atau latihan berjalan akan mengambil semua benda yang ada didekatnya. Setiap kali anak mendekati benda yang mudah pecah, spontan orang tua melarang anaknya mendekat apalagi menyentuhnya. Almari (rak) piring gelas salah satu contoh yang sering menggoda anak untuk mengambilnya sebagai mainan. Melarang anak-anak untuk belajar mengenal benda tersebut bukan pilihan yang bijak, tetapi lebih tepat kalau orang tua mengarahkan dan membimbingnya dengan kasih sayang.

Orangtua seharusnya sudah mempunyai kesadaran dengan kondisi anak, untuk mempersiapkan langkah antisipasi, sehingga hal-hal yang membahayakan anak sedikit mungkin dapat dihindari.

Sekecil apapun seorang anak, apabila diberi pengarahan dengan bahasa yang santun dan penuh kasih sayang lambat laun akan mengerti sedikit demi sedikit.

Letakkan beberapa piring atau mangkok plastik (pokoknya tidak mudah pecah) diantara piring yang bisa pecah dan mudah dijangkau anak. Setiap kali anak ingin mengambil piring berilah pengertian dan larangan untuk tidak mengambil yang mudah pecah (jangan dengan nada tinggi/membentak). Arahkan anak untuk mengambil piring plastik sebagai mainan. Setiap kali anak mendekat rak piring, maka kita harus siap membimbing dengan telaten. Setelah berulang kali melakukan hal tersebut di atas, sudah saatnya kita memberi kepercayaan kepada anak untuk memilih sendiri piring plastik. Kita mengawasi dari jauh, apabila anak masih mengambil piring yang mudah pecah, kita bimbing lagi.

Hal ini sudah saya praktekkan terhadap anak sendiri sejak mulai merangkak. Walaupun belum mengerti sesuatu, akan tetapi saya mempunyai keyakinan bahwa bimbingan dari orang tua sedikit banyak masuk dalam memori alam bawah sadarnya. Suatu saat memori alam bawah sadar akan muncul ketika dibutuhkan. Seingat saya sejak usia sekitar 11 bulan (kok bisa lupa :lol: ) sudah mengerti larangan dan membedakan benda yang boleh untuk bermain dan yang tidak boleh. Walaupun kadang yang namanya anak tetap saja ingin bermain dengan benda apa saja yang dipingini. Kalau ia berdiri di rak piring, dan akan mengambil piring yang mudah pecah, dari jauh saya cukup melarangnya (tidak dengan bentakan lho..) dan Alhamdulillah anak saya kemudian mengambil piring palstik yang memang sudah disediakan oleh istri.

Pengalaman lain, sejak mulai bisa berjalan sering saya ajak ke jalan yang agak ramai kendaraan. Saya tanamkan kepadanya setiap ada kendaraan lewat untuk minggir dan diam tidak bergerak. Setelah beberapa kali training, Alhamdulih ia bisa memahaminya. Sebelum kendaraan terlalu dekat saya sudah berkata:”Awas ada motor atau mobil”, ia lantas akan minggir ke bahu jalan setelah mendengar deru mesin.

Tapi yaa ada kekeliruan sedikit (semoga tidak fatal untuk hari esok), anak saya saat minggir posisinya membelakangi jalan, sehingga kadang menjadi bingung mencari kendaraan yang lewat. Ia nengok ke kiri, tidak ada kendaraan, tapi mendengar deru mesin (Lha jelas tidak ketemu sebab kendaraan sudah dibelakangnya) :roll: , ia nengok ke arah kanan ternyata juga tidak ada (Lha motor sudah lewat ke arah kirinya) :(

Hal ini terjadi karena saat-saat membimbingnya untuk ke tepi jalan setiap ada ada kendaraan lewat saya menuntunnya. Agar cepat sampai pinggir jalan memang begitu caranya (masak anak baru mulai bisa berjalan kok disuruh jalan mundur atau miring ya belum bisa :lol: ) kalau dipaksa malah-malah bisa jatuh, pas kendaraan lewat….. grubyak, bahaya dech. Maka sampai usianya sudah 17 bulan setiap minggir akan membelakangi jalan atau kendaraan. Sudah saya coba beberapa kali belum berhasil, sudah terlanjur tertanam dalam memorinya.

Dengan bimbingan kita sebagai orang tua dengan santun dan penuh kasih sayang dalam kondisi bagaimanapun, Insya Allah anak akan patuh dengan sendirinya tanpa pernah dipaksa, murni tumbuh dari kesadarannya yang masih terbatas. Secara tidak langsung orang tua mempunyai keuntungan dari pembelajaran di atas, antara lain:

  • Merangsang dan melatih kecerdasan anak
  • Anak tidak kehilangan masa bermain sekaligus pembelajaran yang menyenangkan (memilih benda untuk bermain yang paling baik menurut para ahli adalah yang spontanitas)
  • Menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengambil sebuah keputusan
  • Dan tentu masih banyak keuntungan yang lainnya :)

Pendidikan anak pada masa balita/kecil memerlukan ketelatenan agar dalam proses belajarnya dapat mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang ada dalam dirinya, sehingga menjadi pribadi yang “kuat”, lahir dan batin. Anda tentu punya banyak kesan dalam mendidik dan membimbing anak belajar mengenal benda berbahaya, silahkan sharing dalam komentar. Sehingga pengalaman Anda akan bermanfa’at bagi orang lain. Bagi yang blogging baca artikel tentang pengertian dan tujuan SEO untuk blog/website, agar blog yang kita punya cepat terkenal. Bagi yang ingin mempunyai blog/website dimulai membaca artikel tentang web hosting internet. Bekerja dengan Office Word maka maksimalkan fitur yang tersedia, silahkan baca cara membuat bullet and numbering Office Word. Maaf, semoga bermanfa’at dan matur nuwun.

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

Leave a Comment