Home » Pendidikan » Makalah » Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran sebagai salah satu komponen pendidikan perlu dipahami oleh guru agar proses pembelajaran di kelas dapat berlangsung dengan baik. Karena dengan memiliki pengetahuan yang luas tentang metode, guru dapat memilih metode yang tepat untuk suatu materi (kompetensi) yang akan dipelajari atau dicapai oleh siswa. Pemilihan metode yang tepat akan sangat membantu siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Maka seyogyanya guru mengetahui beberapa macam metode pembelajaran.

Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan, maka seorang guru perlu mengetahui dan mempelajari beberapa macam metode pembelajaran, serta dipraktekkan pada saat proses pembelajaran di kelas. Berikut ini macam-macam metode pembelajaran menurut beberapa pakar pendidikan. Pada bagian akhir artikel makalah tersedia link download file Office Word (referensi footnote).

  1. Metode Ceramah

    Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Muhibbin Syah, 2002: 203; Ramayulis, 2010: 193). Metode ceramah boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah digunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar. Metode ini banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik, tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam proses pembelajaran (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2010: 97).
    Beberapa kelebihan metode ceramah adalah : guru mudah menguasai kelas, guru mudah menerangkan bahan pelajaran, dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar, mudah dilaksanakan.
    Beberapa kelemahan metode ceramah adalah : membosankan, menjadi verbalisme (pengertian kata-kata), merugikan siswa yang gaya belajar secara visual, membuat siswa pasif, mengandung unsur paksaan.

  2. Metode Tanya Jawab

    Metode Tanya jawab merupakan cara menyajikan materi pelajaran dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan (E. Mulyasa, 2010: 115; Djamarah dan Zain, 2010: 95). Metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan pada metode ceramah (Zakiah Daradjat, dkk., 2008: 307). Beberapa pertanyaan kepada siswa tersebut tentang materi pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca (Ramayulis, 2010: 193).
    Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat berasal dari guru ke siswa, ataupun sebaliknya. Demikian pula dengan jawabannya, bisa berasal dari guru atau siswa.
    Kelebihannya : pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
    Kekurangannya : menjadikan siswa takut jika guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani.

  3. Metode Diskusi

    Metode diskusi merupakan bentuk pembelajaran kooperatif yang paling lama dan banyak digunakan. Pekerjaan pokok dalam mempersiapkan kelompok diskusi adalah memastikan bahwa tiap anggota berpartisipasi (Robert E. Slavin, 2011: 252). Salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya (Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, 2007: 62). Metode diskusi mengajarkan siswa untuk saling mengemukakan pendapatnya secara kostruktif sehingga diperoleh keputusan yang lebih baik. Diskusi juga membiasakan siswa untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dan bersikap toleran (Syaiful Bahri Djamarah, 2005: 237).
    Metode diskusi adalah cara penyampaian atau penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membicarakan atau menganalisis secara ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah (Ramayulis, 2010: 194).
    Tujuan penggunaan metode diskusi ialah untuk memotivasi dan memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir dengan renungan yang dalam (Fathurrohman dan Sutikno, 2007: 62).
    Kelebihannya : menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan, menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik, membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi.
    Kelemahannya : tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar, peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas, dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.

  4. Metode Demontrasi

    Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik (Zakiah Daradjat, dkk., 2008: 296). Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Syah, 2002: 208).
    Metode demonstrasi merupakan suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukkan tentang proses sesuatu, atau pelaksanaan sesuatu sedangkan murid memperhatikan (Ramayulis, 2010: 195).
    Kelebihannya : membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda, memudahkan berbagai jenis penjelasan, kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, dengan menghadirkan obyek sebenarnya.
    Kelemahannya : siswa terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan, tidak semua benda dapat didemonstrasikan, sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.

  5. Metode Eksperimen

    Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Siswa diberi kesempaatan untuk melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu (Djamarah dan Zain, 2010: 84), sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh siswa sambil memberikan arahan dan bimbingan (Ramayulis, 2010).
    Metode eksperimen biasanya dilakukan dalam suatu pelajaran tertentu seperti ilmu alam, kimia, fisika dan sejenisnya, baik dilakukan di dalam/luar kelas maupun dalam suatu laboratorium tertentu (Daradjat, dkk., 2008: 295).
    Kelebihannya : siswa lebih percaya atas kebenaran berdasarkan percobaannya, membantu siswa untuk membuat trobosan-terobosan baru, hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
    Kelemahannya : lebih sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi, memerlukan berbagai fasilitas dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal, menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan.

  6. Metode Karya Wisata

    Metode karya wisata adalah suatu cara menyajikan materi pelajaran dengan membawa siswa ke suatu obyek yang akan dipelajari dan obyek tersebut di luar kelas. Alasannya bahwa obyek tersebut berada hanya di tempat tersebut dan pengamatan langsung terhadap obyek adalah lebih baik (Subandijah, 1996: 135). Terkadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal ini bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya (Djamarah dan Zain, 2010: 93).
    Dengan metode ini siswa dapat belajar langsung mengenai suatu materi atau obyek yang berada di suatu wilayah tertentu, sehingga menghasilkan suatu pemahaman yang utuh terhadap obyeknya.
    Kelebihannya : menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran, membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat, pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
    Kekurangannya : memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak, memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang, dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan, memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan, biayanya cukup mahal, memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.

  7. Metode Proyek

    Metode ini disebut juga dengan teknik pengajaran unit. Siswa disuguhi bermacam-macam masalah dan bersama-sama menghadapi masalah tersebut dengan mengikuti langkah-langkah tertentu secara ilmiah, logis dan sistematis (Daradjat, dkk., 2008: 310). Metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna (Djamarah dan Zain, 2010: 83).
    Merupakan metode yang digunakan untuk memantapkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan menerapkannya ke dalam aspek kehidupan. Siswa dimita untuk menghubungkan sebanyak mungkin pengetahuannya dengan masalah-masalah atau aspek kehidupan yang dihadapi (Subandijah, 1996: 138).
    Kelebihannya : memperluas pemikiran siswa, membina siswa dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik modern.
    Kekurangannya : kurikulum di Indonesia saat ini belum menunjang pelaksanaan metode ini, memilih topik yang tepat dengan fasilitas dan sumber belajar yang diperlukan bukan pekerjaan mudah, materi pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.

  8. Metode Inquiri

    Menurut Piaget yang dikutip Mulyasa, bahwa metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain (2010: 108).
    Metode inquiri menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran, dan mengarahkan siswa untuk mengetahui dan menyadari apa yang telah diperolehnya selama proses pembelajaran.

  9. Metode Pemecahan Masalah

    Metode pemecahan masalah (problem solving) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, karena dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan (Djamarah dan Zain, 2010: 91). Mulyasa mengutip pendapatnya Gagne (1985), kalau siswa dihadapkan pada suatu masalah, pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah, tetapi juga belajar sesuatu yang baru (2010: 111).
    Dengan metode pemecahan masalah ini siswa dapat menemukan pengetahuan baru dalam prosesnya, dimana ada tuntutan terhadap siswa untuk aktif dan kreatif menyelesaikan permasalahan tertentu (materi pelajaran) dengan kemampuan dan gaya “unik” yang dimilikinya.
    Kelebihannya : pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan; membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil; merangsang pengembangan kemampuan berpikir secara kreatif dan menyeluruh.
    Kekurangannya : memerlukan kemampuan dan keterampilan guru untuk menentukan masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuan siswa; memerlukan waktu yang banyak; memerlukan berbagai sumber belajar untuk memecahkan masalah merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.

  10. Metode Sosiodrama

    Metode sosiodrama atau sandiwara dilakukan oleh sekelompok siswa, untuk memainkan suatu cerita yang telah disusun naskah ceritanya dan dipelajari sebelum dimainkan (Daradjat, dkk., 2008: 301).
    Kelebihannya : siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami dan mengingat isi bahan yang akan didramakan, siswa terlatih untuk berinisiatif dab berkreatif, memupuk bakat seni.
    Kekurangannya : siswa yang tidak ikut menjadi kurang kreatif, banyak memakan waktu, memerlukan tempat yang luas, seringkali mengganggu kelas lain oleh suara pemain dan para penonton yang terkadang bertepuk tangan dan sebagainya.

  11. Metode Penugasan (Resitasi)

    Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar (Djamarah dan Zain, 2010: 85). Tugas yang harus dikerjakan siswa bias secara individual maupun kelompok (Mulyasa, 2010: 113).
    Metode ini dilakukan karena dirasakan materi pelajaran terlalu banyak, sementara wakrtu yang tersedia sedikit. Dengan kata lain, antara materi pelajaran dengan alokasi waktu tidak seimbang, lebih banyak materinya.
    Kelebihannya : pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama, anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.
    Kelemahannya : terkadang anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan temennya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri, terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan, sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual

  12. Metode Drill (Latihan)

    Metode drill bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya (Daradjat, dkk., 2008: 302).
    Kelebihannya : dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat; dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya; dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
    Kekurangannya : menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian; menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan; terkadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan; dapat menimbulkan verbalisme.

  13. Metode Ceramah Plus

    Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya. Contoh tiga macam metode ceramah plus (Daradjat, dkk., 2008: 201-213), yaitu :

    • Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT).
      Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas.
    • Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
      Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
    • Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
      Metode ini adalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill).

Daftar Pustaka

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, cet. ke-9, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, cet. ke-7, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.

Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar – Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, cet. ke-2, Bandung: Refika Aditama, 2007.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. ke-8, Jakarta: Kalam Mulia, 2010.

Robert E. Slavin, Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik, terj. Narulita Yusron, cet. ke-9, Bandung: Nusa Media, 2011.

Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, cet. ke-2, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, cet. ke-4, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010.

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis, cet. ke-2, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005.

Zakiah Daradjat, et.al., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, cet. ke-3, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008.

Download makalah Metode Pembelajaran

klik di sini.
File Microsoft Office Word dengan password: kitapunya

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

1 Comments.

  1. Sangat Bermanfaat bagi saya..

Leave a Comment