Home » Islam » Pendidikan Multikultural Dalam Al Qur’an

Pendidikan Multikultural Dalam Al Qur’an

Pendidikan Multikultural Dalam Al Qur’an. Pendidikan multikultural pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, khususnya al-Qur’an yang menjadi sumber hukum agama Islam. Keanekaragaman yang ada justru menjadi kekayaan intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut. Dengan pendidikan multikultural diharapkan setiap individu atau kelompok bisa menerima dan menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan dengan damai dan tenang. Sehingga terbentuk sebuah negara dan bangsa yang damai dan sejahtera.

A. Pendahuluan.

Keragaman kebudayaan oleh masyarakat lazim disebut multikultural. Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia, ditinjau dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas.[1] Wilayahnya luas yang terdiri dari ribuan pulau, keragaman budaya, suku, ras dan agama adalah sebuah kekayaan yang dimiliki bangsa ini.

Kitab suci al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. merupakan landasan pokok agama Islam dalam semua sisi kehidupan ummatnya. al-Qur’an memberikan hujjah dan bukti penjelasan tentang prinsip-prinsip Islam yang menjadi intisari dakwah.[2] Dengan redaksi yang jelas dan akurat, memberi petunjuk kepada orang Islam tentang kekuasaan Allah, agar manusia menjadi masyarakat yang ideal di dunia.

Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya keragaman latar belakang budaya dan kemajemukan. Multikultural menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Setiap orang akan menghadapi kemajemukan di manapun dan dalam hal apapun.[3] Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai multikultural karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui perbedaan setiap individu untuk hidup bersama dan saling menghormati satu dengan yang lainnya.

Oleh karena itu menjadi penting menulis makalah yang mendeskripsikan tentang pendidikan multikultural dalam al-Qur’an.

B. Latar Belakang Masalah.

Allah SWT. menciptakan manusia dengan bermacam-macam perbedaan supaya bisa saling berinteraksi mengenal antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan bangsa dan suku tentu akan melahirkan bermacam budaya yang ada di masyarakat.

Berangkat dari perbedaan tersebut maka setiap budaya akan mempunyai norma atau standard-standard tingkah laku yang terdapat di dalam masyarakat bermacam-macam.[4] Sedikit banyak norma-norma itu berlainan antara satu individu atau kelompok dengan individu atau kelompok yang lain, karena sistem nilai dan keyakinan yang berkembang di dalam masyarakat-masyarakat tertentu, ditinjau dari sudut kebudayaan, memisahkan masyarakat-masyarakat itu dari masyarakat-masyarakat yang lain sehingga berkembang corak nilai-nilai dan keyakinan yang berbeda-beda.[5] Ini menjadi sebuah kenyataan yang melatarbelakangi timbulnya bermacam perbedaan dan keragaman budaya.

Pada prosesnya interaksi yang berlangsung baik secara individu maupun kelompok ternyata banyak menimbulkan masalah tersendiri. Permasalahan yang muncul di tengah-tengah kehidupan mempunyai latar belakang yang beraneka ragam.

Orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya, semisal pemuka agama, tokoh masyarakat bahkan birokrasi pemerintah telah berupaya dengan berbagai cara agar tercipta harmonisasi kehidupan baik dalam tataran mikro ataupun makro melalui saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada. Upaya-paya tersebut melalui banyak cara yang ditempuh seperti bentuk artikel dan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

Akan tetapi kenyataan yang terjadi di masyarakat ternyata belum sesuai dengan harapan. Acap kali terjadi gesekan-gesekan karena berasal dari sebuah perbedaan mengakibatkan permasalahan yang tidak mudah untuk diselesaikan. Banyak faktor yang melatarbelakangi permasalahan yang muncul ke permukaan, menjadi konflik yang bermuara pada perbedaan individu ataupun kelompok.

Bila kelompok kemasyarakatan yang obyektif mengalami disorganisasi sosial, manusia akan kehilangan bimbingan, kontrol sosial, dan sanksi sosial. Pola kehidupan banyak diwarnai keliaran dan konflik-konflik internal dan eksternal yang semakin intensif.[6]

Permasalahan atau konflik yang muncul berakibat menjadi sebuah tindakan yang terkadang membahayakan hidup dalam berbangsa dan bernegara yang memecah persatuan dan kesatuan.

Dalam lingkup keagamaan, menjadi konflik horisontal antar ummat seagama ataupun beda agama (keyakinan). Konflik-konflik berlatar belakang agama pada saat sekarang intensitasnya semakin meningkat. Dari konflik tersebut tidak sedikit melahirkan kelompok-kelompok yang bersikap radikal dan anarkhis.

Seringnya konflik dan permasalahan yang muncul dari sisi keagamaan dewasa ini menyebabkan merebaknya aksi-aksi terorisme, anarkhisme terhadap individu atau kelompok dan tempat-tempat ibadah yang akhirnya mengganggu perdamaian dan ketenangan masyarakat luas. Terkadang perilaku tersebut tidak hanya merugikan diri sendiri atau kelompoknya, bangsa dan negara juga turut dirugikan.

Kerusuhan demi kerusuhan yang terjadi juga menjadi sebuah bukti bahwa bangsa yang mayoritas beragama Islam ini belum atau bahkan tidak menghargai perbedaan, lebih suka memaksakan kehendak diri atau kelompoknya sendiri.

C. Pendidikan Multikultural

Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.[7]

Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham).[8] Dalam kata tersebut terkandung sebuah pengakuan akan kehidupan manusia yang mempunyai kebudayaan beraneka ragam dengan segala keunikannya.

Pendidikan merupakan wahana yang paling tepat untuk membangun kesadaran multikulturalisme.[9] Melalui pendidikan tersebut yang terintegrasi dalam kurikulum maka pemahaman masyarakat terhadap setiap perbedaan yang ada menjelma menjadi sebuah perilaku untuk saling menghargai dan menghormati keragaman identitas dalam kerangka penciptaan harmonisasi kehidupan.

Berdasarkan konflik-konflik yang terjadi maka keberadaan pendidikan multikultural sangat diperlukan. Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diterapkan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada diri siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar proses belajar menjadi lebih efektif dan mudah.[10] Hal tersebut sekaligus juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar terbiasa bersikap demokratis, humanis dan pluralis dalam lingkungannya. Selanjutnya akan terbentuk masyarakat bangsa yang lebih berbudaya dengan banyak keanekaragaman.

D. Pendidikan Multikultural dalam al-Qur’an.

Keberadaan dan asal manusia yang mulikultural menjadi sebuah kekayaan ilmu pengetahuan bagi ummat Islam untuk dikaji lebih mendalam. Perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kehidupan manusia telah tertulis dalam al-Qur’anul Karim sebagaimana Allah SWT. telah berfirman :

يَآَيُّهَاالنَّاسُ إِناَّ خَلَقْنكُم مِّنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثى وَجَعَلْنكُمْ شُعُوْبًا وَقَبآ ئِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَكُمْ, إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinnya : “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat (49): 13).[11]

Kurangnya pemahaman dan penerapan secara praktis firman Allah SWT. dalam QS. al-Hujurat (49): 13 tersebut menyebabkan orang Islam terjebak dalam hal-hal yang merugikan. Hal tersebut menjadi penyebab terjadinya konflik yang tidak pernah berhenti.

Maka konsep pedidikan multikultural perlu secara terus-menerus untuk disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai forum atau media. Hal tersebut bertujuan agar tumbuh dalam diri setiap orang kesadaran hidup dalam sebuah bangsa yang mempunyai keragaman budaya, pada akhirnya bisa saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan.

Namun, multikultuturalisme dalam pengertian yang lebih sesuai dan diterima untuk kebutuhan kontemporer adalah bahwa orang-orang dari berbagai kebudayaan yang beragam secara permanen hidup berdampingan satu dengan yang lainnya; banyak versi multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan-kebudayaan lain, mencoba memahami mereka secara penuh dan empatik; multikul-turalisme mengimplikasikan suatu keharusan untuk mengapresiasi kebudayaan-kebudayaan lain, dengan kata lain menilainya positif. Multikulturalisme muncul kapan dan dimanapun ketika perdagangan dan kaum diaspora yang hidup darinya menjadi penting, dan ini menghendaki saling adaptasi (mutual adaption) sehingga semua kelompok memperoleh kemajuan dari pertukaran yang sifatnya material dan manufaktural maupun kultural berupa gagasan-gagsan dari berbagai penjuru dunia.[12]

Karekteristik pendidikan multikultural tersebut meliputi tujuh komponen, yaitu belajar hidup dalam perbedaan, membangun tiga aspek mutual (saling percaya, pengertian, dan menghargai), terbuka dalam berfikir, apresiasi dan interdependensi, serta resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan. Dari beberapa karakteristik tersebut, diformulasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil, bahwa konsep pendidikan multikultural ternyata selaras dengan ajaran-ajaran Islam dalam mengatur tatanan hidup manusia di muka bumi ini, terutama sekali dalam konteks pendidikan.[13]

1. Karakteristik belajar hidup dalam perbedaan.

Pendidikan selama ini lebih diorientasikan pada tiga pilar pendidikan, yaitu menambah pengetahuan, pembekalan keterampilan hidup (life skill), dan menekankan cara menjadi “orang” sesuai dengan kerangka berfikir peserta didik. Realitasnya dalam kehidupan yang terus berkembang, ketiga pilar tersebut kurang berhasil menjawab kondisi masyarakat yang semakin mengglobal. Maka dari itu diperlukan satu pilar strategis yaitu belajar saling menghargai akan perbedaan, sehingga akan terbangun relasi antara personal dan intra personal. Dalam terminology Islam, realitas akan perbedaan tak dapat dipungkiri lagi, sesuai dengan Q.S. Al-Hujurat (49) :13 yang menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai jenis kelamin, suku, bangsa, serta interprestasi yang berbeda-beda.

2. Karakteristik membangun tiga aspek mutual.

Ketiga hal tersebut yaitu membangun saling percaya (mutual trust), memahami saling pengertian (mutual understanding), dan menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect). Tiga hal ini sebagai konsekuensi logis akan kemajemukan dan kehegemonikan, maka diperlukan pendidikan yang berorientasi kepada kebersamaan dan penanaman sikap toleran, demokratis, serta kesetaraan hak.

Implementasi menghargai perbedaan dimulai dengan sikap saling menghargai dan menghormati dengan tetap menjunjung tinggi rasa persatuan dan persaudaraan. Hal tersebut dalam Islam lazim disebut tasamuh (toleransi).[14]

Ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan akan pentingnya saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain, diantaranya ayat yang menganjurkan untuk menjauhi berburuk sangka dan mencari kesalahan orang lain yaitu Q.S. al-Hujurat (49): 12 :

يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثمٌ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.[15]

Tidak mudah menjatuhkan vonis dan selalu mengedepankan klarifikasi (tabayyun) dalam Q.S. al-Hujurat (49): 6 :

يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاءٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[16]

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, QS. al-Baqarah (1): 256 yang berbunyi :

لَااِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ اْلغَيِّ

Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.[17]

3. Karakteristik terbuka dalam berfikir.

Pendidikan seyogyanya memberi pengetahuan baru tentang bagaimana berfikir dan bertindak, bahkan mengadopsi dan beradaptasi terhadap kultur baru yang berbeda, kemudian direspons dengan fikiran terbuka dan tidak terkesan eksklusif. Peserta didik didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir sehingga tidak ada kejumudan dan keterkekangan dalam berfikir. Penghargaan al-Qur’an terhadap mereka yang mempergunakan akal, bisa dijadikan bukti representatif bahwa konsep ajaran Islampun sangat responsif terhadap konsep berfikir secara terbuka. Salah satunya ayat yang menerangkan betapa tingginya derajat orang yang berilmu yaitu Q.S. al?Mujaadillah (58): 11 :

يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى اْلمَجَالِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ امَنُوْا مِنْكُملا وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا اْلعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.[18]

Ayat yang menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal kejumudan dan dogmatisme, hal ini dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah (1):170 yang berbunyi :

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَااَنْزَلَ اللهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآاَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ابَآءَنَا اَوَلَوْ كَانَ ابَآؤُهُمْ لاَيَعْقِلُوْنَ شَيْئًا وَلاَيَهْتَدُوْنَ

Artinya : Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”[19]

4. Karakteristik apresiasi dan interdependensi.

Karakteristik ini mengedepankan tatanan sosial yang care (peduli), dimana semua anggota masyarakat dapat saling menunjukan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan, kohesi, dan keterkaitan sosial yang rekat, karena bagaimanapun juga manusia tidak bisa survive tanpa ikatan sosial yang dinamis. Konsep seperti ini banyak termaktub dalam al-Qur’an, salah satunya Q.S. al-Maidah (5): 2 yang menerangkan betapa pentingnya prinsip tolong menolong dalam kebajikan, memelihara solidaritas dan ikatan sosial (takwa), dengan menghindari tolong menolong dalam kejahatan.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلاِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ اِنَّ اللهَ شَدِيْدُ اْلعِقَابِ

Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. al-Maidah (5): 2).[20]

Redaksi ayat tersebut mengisyaratkan bahwa tolong menolong yang dapat mengantarkan manusia, baik sebagai individu atau kelompok, kepada sebuah tatanan masyarakat yang kokoh dalam bingkai persatuan dan kebersamaan adalah tolong menolong dalam hal kebaikan, kejujuran dan ketaatan.[21]

5. Karakteristik resolusi konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan.

Konflik dalam berbagai hal harus dihindari, dan pendidikan harus mengfungsikan diri sebagai satu cara dalam resolusi konflik. Adapun resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan (forgiveness). Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal. Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian, cinta damai dan rasa aman bagi seluruh makhluk. Juga secara tegas al-Qur’an menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing kearah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih sayang. Hal tersebut terdapat dalam Q.S. asy-Syuura (42): 40 yang berbunyi :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهُ عَلَى الله اِنَّهُ لاَيُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ

Artinya : Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.[22]

Apabila terjadi perselisihan, maka Islam menawarkan jalur perdamaian melalui dialog untuk mencapai mufakat. Hal ini tidak membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan bahkan agama.[23]

Kesadaran terhadap kehidupan yang multikultural pada akhirnya akan menjelma menjadi suatu kesatuan yang harmonis yang memberi corak persamaan dalam spirit dan mental.[24] Untuk memperoleh keberhasilan bagi terealisasinya tujuan mulia yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki agama dan iman berbeda, perlulah kiranya adanya keberanian mengajak pihak-pihak yang berkompenten melakukan perubahan-perubahan di bidang pendidikan terutama sekali melalui kurikulumnya yang berbasis keanekaragaman.

Paradigma tentang pendidikan multikultural dan upaya-upaya untuk penerapannya di Indonesia kini mendapat perhatian yang semakin besar karena relevansi dan urgensinya yang tinggi. Pengembangan pendidikan multikultural tersebut diharapkan dapat mewujudkan masyarakat multikultural, yaitu suatu masyarakat yang majemuk dari latar belakang etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai tekad dan cita-cita yang sama dalam membangun bangsa dan negara.

E. KESIMPULAN

Dari paparan di atas, keanekaragaman budaya adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Kehidupan yang tenang dan damai diantara bermacam perbedaan dalam bermasyarakat perlu disosialisasikan agar benar-benar terwujud, salah satunya melalui pendidikan multikultural.

Pendidikan multikultural pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, khususnya al-Qur’an yang menjadi sumber hukum agama Islam. Keanekaragaman yang ada justru menjadi kekayaan intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut.

Dengan pendidikan multikultural diharapkan setiap individu atau kelompok bisa menerima dan menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan dengan damai dan tenang walaupun berbeda-beda. Sehingga terbentuk sebuah negara dan bangsa yang damai dan sejahtera.

F. Penutup

Demikian makalah ini penulis susun, semoga menjadi sebuah ilmu yang bermanfa’at di dunia dan akhirat. Masih banyak kekurangan dalam makalah ini, maka kritik dan saran yang konstruktif sangat berguna untuk menambah baik kualitas makalah ini.


Footnote :

[1]Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), hlm. 4.

[2]Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi, cet. ke-30 (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), hlm. 131.

[3]Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia, cet. ke-1 (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), hlm. 5.

[4]Sanapiah Faisal, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, tt), hlm. 379.

[5]Ibid., hlm. 381.

[6]Kartini Kartono, Hygiene Mental, cet. ke-7 (Bandung: Mandar Maju, 2000), hlm. 196.

[7]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, cet. ke-7 (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 10.

[8]Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 75.

[9]Ibid, hlm. 79.

[10]Ainul Yaqin, Pendidikan, hlm. 25.

[11]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama, 1978/1979), hlm. 847.

[12]Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, cet. ke-1 (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 5.

[13]Ibid., hlm. 74-84.

[14]Mundzier Suparta, Islamic, hlm. 55-57.

[15]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an, hlm. 847.

[16]Ibid., hlm. 846.

[17]Ibid., hlm. 63.

[18]Ibid., hlm. 910.

[19]Ibid., hlm. 41.

[20]Ibid., hlm. 157.

[21]Mundzier Suparta, Islamic, hlm. 64.

[22]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an, hlm. 789.

[23]Mundzier Suparta, Islamic, hlm. 59.

[24]Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, cet. ke-1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 11.


DAFTAR PUSTAKA

Baidhawy, Zakiyuddin, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, cet. ke-1, Jakarta: Erlangga, 2005.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama, 1978/1979.

Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, cet. ke-1, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Faisal, Sanapiah, Sosiologi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, tt.

Kartono, Kartini, Hygiene Mental, cet. ke-7, Bandung: Mandar Maju, 2000.

Mahfud, Choirul, Pendidikan Multikultural, cet. ke-1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Rahman, Shafiyyur, Sirah Nabawiyah, terj. Kathur Suhardi, cet. ke-30, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009.

Suparta, Mundzier, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia, cet. ke-1, Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008.

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, cet. ke-7, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.

Yaqin, Ainul, Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, cet. ke-1, Yogyakarta: Pilar Media, 2005.

Download makalah pendidikan multikultural dalam Al Qur’an

Klik di sini (13 hlm.) password: www.fahrurrozi.com
Untuk editing baca tips menulis Office Word, dan khususnya tentang bullet and numbering Office Word, format sama kok.

Share to : Facebook | Twitter | Digg | Google | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit |

Artikel terkait :

Random Posts :

Leave a Comment