Kemampuan Anak Berpikir Abstrak

childMasa balita, khususnya pada usia 1 s/d 2 tahun merupakan proses belajar anak mengenal lingkungannya. Sering anak tertarik dengan sesuatu yang berbahaya, misalnya api (lilin, kompor, lentera, bara dll) yang menyala. Tertarik untuk memegang benda-benda yang panas (knalpot/ mesin kendaraan, termos, gelas yang berisi air panas). Perilaku tersebut suatu yang wajar, karena anak memang mempunyai rasa ingin tahu yang besar sebagai proses pembelajaran mengenal lingkungannya. Mereka belum mengerti bahayanya apabila memegang atau menyentuhnya.

Nah karena ingin melindungi anak maka banyak orang tua memberikan proteksi yang berlebihan, dengan melarang anak untuk mendekat. Hal ini (larangan orang tua) sebenarnya menghambat proses pembelajaran anak, karena anak belum tahu/mengerti arti sakit dan rasa panas apabila menyentuhnya.

Lucunya……kebanyakan orang tua kemudian jengkel atau marah ketika anak mendekati benda-benda tersebut. Kemarahan orang tua karena terlalu khawatir dan merasa anak tidak mentaati larangan orang tua. Tidak sedikit orang tua kemudian bertindak ekstrim, dengan membentak, bahkan memukul atau menyeret dengan kasar agar menjauhinya.

Pernahkah orangtua berpikir:

  • Apakah anak sudah tahu arti sakit dalam arti sebenarnya?

Tentunya anak berumur 1-2 tahun belum tahu sesungguhnya arti sakit. (kalau ditanya definisi sakit, banyak dari kita yang akan bingung lho…… paling jawabnya sakit itu tidak enak, contohnya sakit gigi dll)he…he…

  • Apabila anak belum tahu arti sakit, salahkah mereka menyentuhnya?

Anak tidak bisa disalahkan, pemahaman mereka belum sampai tahap itu. Anak belum mengerti akibat yang ditimbulkan dari benda-benda yang berbahaya.

  • Setelah dimarahi, apakah anak akan menjadi patuh?

Belum tentu, kadang rasa ingin tahu tahu anak mengalahkan larangan dari orang tua, sehingga saat melihat benda-benda tersebut mereka ingin menyentuhnya (karena memang belum tahu akibatnya). Kalaupun anak menurut, bukan karena tahu, tapi karena mereka takut.

  • Dan kalau diteruskan, akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh tentunya?

Sebagai orang tua harus bijak, mengerti kondisi anak yang belum mampu berpikir secara abstrak. Anak dapat menerima suatu proses pembelajaran apabila terlibat langsung sebagai bentuk pengalaman belajar. Keterlibatan anak secara langsung lebih bermakna dan akan mudah dicerna dengan pemahaman mereka yang masih sedikit.

Dari uraian diatas, sebenarnya pengalaman anak sebagai bentuk proses pembelajaran belum ada, seperti rasa sakit, benda-benda yang berbahaya jangan disentuh dll.

Akan lebih bijak apabila orang tua melibatkan langsung anak mengenal benda yang berbahaya. Contoh mudah, pada waktu kita pulang ke rumah naik kendaraan (ilustrasi sepeda motor), tentunya anak akan menyambut. Umumnya anak kemudian memegang-megang kendaraan. Kalau dibiarkan tentu berbahaya, bisa jadi anak memegang knalpot atau mesin (padahal mereka belum tahu arti rasa sakit dan panas). Kalau dilarang atau kemudian di gendong, malah bisa runyam, karena anak tentu semakin penasaran untuk menyentuhnya di lain kesempatan. Lha iya kalau kita bisa mengawasi terus menerus, hal itu tidak masalah. Tapi lengah sedikit dalam mengawasi urusan bisa berabe, tahu-tahu tangannya sudah melepuh terkena panas.

Supaya anak tahu hal itu berbahaya, maka perlu kita kenalkan benda panas jangan dipegang. Caranya dekatkan tangan anak supaya mengenal panas, sambil berkata “awas panas”, “panas ya”, “ini panas” dll. Nah supaya anak benar-benar tahu arti “panas”, maka sentuhkanlah tangannya dengan cepat, supaya anak tahu “rasa panas seperti apa”. DENGAN CATATAN: kendaraan tidak habis berjalan jauh atau mesin hidup terlalu lama (mesin/ knalpot tidak terlalu panas). Sehingga ketika kita membimbing anak menyentuhnya tidak berakibat buruk, dan anak menjadi tahu maksud “panas”.

Pengalaman belajar anak dengan menyentuh langsung benda yang panas tentu sangat berharga, sebagai proses pembelajaran yang akan terekam di dalam memory otaknya, walaupun belum tahu maknanya. Hal ini juga di terapkan pada gelas yang berisi air panas, sentuhkan sebentar supaya bisa merasakan langsung. Termasuk terhadap lilin yang menyala, sentuhkan jari anak pada api lilin.

Dengan pengalaman belajar tersebut, anak akan lebih cepat mengerti dengan benda-benda yang berbahaya. Sehingga ketika ada lilin menyala mereka tidak berani menyentuh apinya, paling-paling memegang batang atau tempat lilin. Ketika merasakan hawa panas dari knalpot, anak tidak akan berani menyentuhnya.

Keuntungan dari proses pembelajaran seperti diatas anak menjadi lebih tahu dengan benda yang berbahaya, selain itu kita telah mendidik anak untuk bersikap hati-hati dan berpikir kritis (tidak cuma melarang melulu, tanpa mengerti kemampuan berpikir anak).

ANAK adalah SOSOK YANG MASIH POLOS DALAM SEGALA HAL

MAKA BELUM MAMPU BERPIKIR ABSTRAK

Setujuuuuuuuuu kan?

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>